(pernah tersiar di Magelang Ekspres, tanggal 12 November 2017))
Dialah sebenarnya alasan utamaku menengok kampung
halaman, setelah bertahun-tahun
meninggalkannya. Ya, perempuan masa laluku, Siti Masitha, kembang desa yang
dulu menjadi incaran setiap laki-laki. Ah, bagaimana sosoknya kini, masihkah
mempesona seperti dulu. Tatapan matanya menggoda, juga senyumnya yang merekah
dengan gigi-gigi putih tertata rapi, sanggup menawan hati setiap lawan bicara.
Beberapa saat setelah tiba di desa ini, aku sebenarnya terkejut. Siti Masitha yang dulu acuh dengan kegiatan warga, kini menjadi pemimpin di desa ini. Menurut Umar Sanusi, sepupuku, sudah hampir
satu periode ia menjabat
kepala desa.
“Bu Sitha, menang mutlak dalam pemilihan yang diikutinya, Mas.“
“Wah, benar-benar tidak menyangka aku, Dik Umar. Dulu dia itu manja sekali.”
“Begitulah Mas, sejak menghilang selama beberapa tahun, ia banyak berubah, menjadi
berani dan luwes bila berbicara di depan umum. Banyak
warga yang suka kepadanya karena terkesan cerdas dan selalu membela kepentingan
orang banyak.”
“Jadi ia pernah meninggalkan desa ini?”
“Betul Mas, begitu pulang ke desa, mendadak ia menjadi pintar, punya banyak
uang dan kenal orang-orang penting.”
Aku menjadi penasaran dengan penuturan Umar Sanusi.
Aku harus bertemu dengan Siti Masitha. Tentu banyak hal yang bisa saling
diceritakan bila bertemu dengannya. Aku dan dia pernah begitu dekat, menjalin
kasih selama beberapa tahun, walau akhirnya harus menyerah pada kenyataan,
bahwa aku dan dirinya tidak berjodoh. Orang tuaku dan orang tuanya berseberangan
dalam banyak hal, terutama dalam pilihan
politik.
Bertahun-tahun lampau, aku meninggalkan desa ini. Meninggalkan kekasih yang sangat
kucintai. Bapak memaksaku
melanjutkan kuliah ke kota dan
tinggal bersama saudara jauhku di sana, sedang Siti Masitha konon dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Pikiranku melayang ke masa silam, membayangkan
bila aku dan dia dulu bisa bersanding ke pelaminan. Ada rasa yang tak biasa,
entah rindu atau apa namanya, aku tak tahu pasti. Perasaanku berbunga-bunga
seperti muda kembali, lebih-lebih setelah Umar Sanusi bilang bahwa Bu Kades
belum berumah tangga sampai sekarang. Kata orang-orang yang kudengar kemudian, Siti
Masitha hatinya remuk redam setelah hubungannya denganku dulu tidak disetujui oleh orang tuanya dan malah dijodohkan dengan
laki-laki lain. Siti Masitha memberontak, kemudian lari entah kemana. Tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah itu, begitu kembali ke desa, ia menjadi orang yang berbeda dalam banyak hal.
Aku merasa benar-benar gila, siang malam yang
kupikirkan hanya perempuan itu. Sudah berbagai cara kucoba untuk meredam
perasaanku yang menggebu-gebu tentang dirinya, tetapi tetap saja tak bisa. Aku
mengutuk diriku sendiri, mengapa aku bisa seperti ini. Selintas aku merasa
berdosa kepada istri dan anak-anakku yang kutinggalkan di kota, tetapi hanya
sesaat, begitu bayangan perempuan masa laluku itu muncul kembali, aku seperti
ditelikung perasaan bersalah, rindu dan harap-harap cemas ingin segera bertemu
dengannya.
***
Sudah seminggu lebih aku tinggal di desa ini, menumpang di rumah Umar Sanusi. Dulu, aku memang pernah dua kali pulang, ketika bapak dan ibu bergantian
tiada, namun itu cuma sebentar. Waktu itu aku juga tidak berpikir tentang Siti
Masitha, karena rutinitas kerja yang banyak menyita waktu dan pikiran. Setelah
meyakinkan diri tak ada yang akan kutemui lagi, rumah dan tanah warisan kujual semua. Aku bertekad bulat meninggalkan kampung halaman dan tak akan kembali lagi.
Namun begitulah, tiba-tiba aku ingin menengok kembali desa ini. Ada perasaan
bersalah yang mengganjal di hatiku, harus kutuntaskan disini. Dan semua itu
berhubungan dengan perempuan masa laluku, Siti Masitha.
Tak semudah bayangan semula, aku sulit sekali
menemui perempuan itu. Sampai hari ini, aku belum juga bisa bertemu dengannya.
Rumahnya selalu sepi, hanya pembantu dan penjaga rumah saja yang ada. Di kantor
desa pun, beberapa kali aku berkunjung ke sana, tetap saja tak
dapat kujumpai sosoknya. Menurut beberapa perangkat desa yang
kutemui, Bu Kades beberapa hari ini berada di kota provinsi, yang
letaknya memang agak jauh dari desa. Konon, ada masalah besar yang sedang
diselesaikannya di sana. Mereka tak mau menjelaskan tentang masalah besar itu,
tetapi lama-lama aku mencium ada hal tak beres terjadi di sini.
Setelah menelisik lebih lanjut, tanya sana-sini
kepada beberapa penduduk, akhirnya baru kutahu yang terjadi di desa ini. Juga tentang Siti Masitha dan sepak
terjangnya selama ini, walau simpang siur tak jelas kebenarannya. Sepertinya
perempuan masa laluku itu banyak menyimpan misteri, berselimut kabut gaib, sejak
kepulangannya kembali ke desa ini dahulu.
Inilah cerita-cerita itu, yang sebenarnya sulit
diterima akal pada umumnya. Konon Siti
Masitha melarikan diri dari
orang tuanya kemudian bertemu dengan orang pintar. Ia mendapat semacam ilmu yang memungkinkannya bisa meraih
harta, kecerdasan dan kekuasaan seperti sekarang. Begitu pulang ke desa, orang
tua dan saudara-saudaranya mendadak mati satu demi satu. Banyak orang menduga
mereka menjadi tumbal ilmu yang dimilikinya.
Cerita lain menyebutkan bahwa ia melarikan diri ke sebuah kota kemudian bertemu dengan orang kaya, pejabat penting di pemerintahan. Karena kecantikannya, ia menjadi istri simpanan pejabat tersebut kemudian
diberikan berbagai fasilitas
mewah dan kemudahan. Begitu pulang ke kampung halaman, Siti Masitha
bisa meraih simpati warga hingga menjadi kepala desa.
Masih banyak cerita-cerita lain tentangnya, tetapi
begitulah, hanya sebatas cerita saja yang tak jelas kebenarannya. Aku sebenarnya
heran, benarkah ia seperti itu. Aku dulu mengenalnya sebagai gadis manja dan cenderung tak tahu banyak hal. Tetapi yang jelas, kini ia dalam
masalah besar. Siti Masitha diperiksa di kota provinsi karena kasus
yang membelitnya. Menurut kabar yang beredar, ia banyak menyelewengkan dana desa dari pusat untuk kepentingan pribadi. Selain itu ia juga menarik upeti dari pengusaha
yang terlibat proyek menggunakan anggaran desa tersebut. Sampai beberapa waktu ia tak berada di
desa, menjalani pemeriksaan di kota provinsi.
Ah, aku benar-benar bingung, tak tahu apa yang
harus kulakukan sekarang. Padahal niatku semula kembali kesini adalah ingin
menemui perempuan masa laluku itu, yang sungguh masih sangat kucintai, meminta
maaf tentang kesalahanku di masa silam yang menghantuiku sampai hari ini.
***
Malam sebentar lagi tiba, sepasang muda-mudi
bertengkar hebat dalam keremangan senja di pinggiran desa.
“Aku tak bisa meneruskan hubungan ini, orang tua
kita tak merestui.”
“Kita bisa lari, kemudian membina hidup bersama. Jauh dari desa ini.”
“Tidak. Aku tak mau melukai hati mereka. Kita
harus berpisah.”
“Kamu pengecut. Semuanya telah kuserahkan padamu.
Kamu mau lari dari tanggungjawab begitu saja?”
“Kita memang harus mengalah pada kenyataan. Biarlah semua yang telah terjadi diantara kita
menjadi kenangan yang perlahan hilang tertiup angin dan terkubur waktu.”
“Kamu
memang laki-laki pengecut!”
Perempuan itu menangis, melayangkan tamparan ke arah pasangannya. Lelaki itu tak bisa menghindar atau memang tak mau
menghindar. Mendadak, aku tersengal hebat dan tergeragap bangun,
keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh. Aku ingat perempuan itu, perempuan
masa laluku. Aku harus minta maaf kepada Siti Masitha secepatnya untuk
menghapus bayang-bayang dosa itu.
Mendadak pintu kamar diketuk keras. Umar
Sanusi mengabarkan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang. Ada kabar
dari kota provinsi, Bu Kades menjerat lehernya sendiri, tak
tahan menghadapi masalah yang menderanya belakangan ini. ●
(2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar