Senin, 20 Agustus 2018

SITI MASITHA


(pernah tersiar di Magelang Ekspres, tanggal 12 November 2017))

Dialah sebenarnya alasan utamaku menengok kampung halaman, setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Ya, perempuan masa laluku, Siti Masitha, kembang desa yang dulu menjadi incaran setiap laki-laki. Ah, bagaimana sosoknya kini, masihkah mempesona seperti dulu. Tatapan matanya menggoda, juga senyumnya yang merekah dengan gigi-gigi putih tertata rapi, sanggup menawan hati setiap lawan bicara.

Beberapa saat setelah tiba di desa ini, aku sebenarnya terkejut. Siti Masitha yang dulu acuh dengan kegiatan warga, kini menjadi pemimpin di desa ini. Menurut Umar Sanusi, sepupuku, sudah  hampir satu periode ia menjabat kepala desa.
“Bu Sitha, menang mutlak dalam pemilihan yang diikutinya, Mas.“

“Wah, benar-benar tidak menyangka aku, Dik Umar. Dulu dia itu manja sekali.”

“Begitulah Mas, sejak menghilang selama beberapa tahun, ia banyak berubah, menjadi berani dan luwes bila berbicara di depan umum. Banyak warga yang suka kepadanya karena terkesan cerdas dan selalu membela kepentingan orang banyak.”

“Jadi ia pernah meninggalkan desa ini?”

Betul Mas, begitu pulang ke desa, mendadak ia menjadi pintar, punya banyak uang dan kenal orang-orang penting.”

Aku menjadi penasaran dengan penuturan Umar Sanusi. Aku harus bertemu dengan Siti Masitha. Tentu banyak hal yang bisa saling diceritakan bila bertemu dengannya. Aku dan dia pernah begitu dekat, menjalin kasih selama beberapa tahun, walau akhirnya harus menyerah pada kenyataan, bahwa aku dan dirinya tidak berjodoh. Orang tuaku dan orang tuanya berseberangan dalam banyak hal, terutama dalam pilihan politik.

 Bertahun-tahun lampau, aku meninggalkan desa ini. Meninggalkan kekasih yang sangat kucintai. Bapak memaksaku melanjutkan kuliah ke kota dan tinggal bersama saudara jauhku di sana, sedang Siti Masitha konon dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya.

Pikiranku melayang ke masa silam, membayangkan bila aku dan dia dulu bisa bersanding ke pelaminan. Ada rasa yang tak biasa, entah rindu atau apa namanya, aku tak tahu pasti. Perasaanku berbunga-bunga seperti muda kembali, lebih-lebih setelah Umar Sanusi bilang bahwa Bu Kades belum berumah tangga sampai sekarang. Kata orang-orang yang kudengar kemudian, Siti Masitha hatinya remuk redam setelah hubungannya denganku dulu tidak disetujui oleh orang tuanya dan malah dijodohkan dengan laki-laki lain. Siti Masitha memberontak, kemudian lari entah kemana. Tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah itu, begitu kembali ke desa, ia menjadi orang yang berbeda dalam banyak hal.

Aku merasa benar-benar gila, siang malam yang kupikirkan hanya perempuan itu. Sudah berbagai cara kucoba untuk meredam perasaanku yang menggebu-gebu tentang dirinya, tetapi tetap saja tak bisa. Aku mengutuk diriku sendiri, mengapa aku bisa seperti ini. Selintas aku merasa berdosa kepada istri dan anak-anakku yang kutinggalkan di kota, tetapi hanya sesaat, begitu bayangan perempuan masa laluku itu muncul kembali, aku seperti ditelikung perasaan bersalah, rindu dan harap-harap cemas ingin segera bertemu dengannya.

***

Sudah seminggu lebih aku tinggal di desa ini, menumpang di rumah Umar Sanusi. Dulu, aku memang pernah dua kali pulang, ketika bapak dan ibu bergantian tiada, namun itu cuma sebentar. Waktu itu aku juga tidak berpikir tentang Siti Masitha, karena rutinitas kerja yang banyak menyita waktu dan pikiran. Setelah meyakinkan diri tak ada yang akan kutemui lagi, rumah dan tanah warisan kujual semua. Aku bertekad bulat meninggalkan kampung halaman dan tak akan kembali lagi. Namun begitulah, tiba-tiba aku ingin menengok kembali desa ini. Ada perasaan bersalah yang mengganjal di hatiku, harus kutuntaskan disini. Dan semua itu berhubungan dengan perempuan masa laluku, Siti Masitha.

Tak semudah bayangan semula, aku sulit sekali menemui perempuan itu. Sampai hari ini, aku belum juga bisa bertemu dengannya. Rumahnya selalu sepi, hanya pembantu dan penjaga rumah saja yang ada. Di kantor desa pun, beberapa kali aku berkunjung ke sana, tetap saja tak dapat kujumpai sosoknya. Menurut beberapa perangkat desa yang kutemui, Bu Kades beberapa hari ini berada di  kota provinsi, yang letaknya memang agak jauh dari desa. Konon, ada masalah besar yang sedang diselesaikannya di sana. Mereka tak mau menjelaskan tentang masalah besar itu, tetapi lama-lama aku mencium ada hal tak beres terjadi  di sini.

Setelah menelisik lebih lanjut, tanya sana-sini kepada beberapa penduduk, akhirnya baru kutahu yang terjadi di desa ini.  Juga tentang Siti Masitha dan sepak terjangnya selama ini, walau simpang siur tak jelas kebenarannya. Sepertinya perempuan masa laluku itu banyak menyimpan misteri, berselimut kabut gaib, sejak kepulangannya kembali ke desa ini dahulu.

Inilah cerita-cerita itu, yang sebenarnya sulit diterima akal pada umumnya. Konon Siti Masitha melarikan diri dari orang tuanya kemudian bertemu dengan orang pintar. Ia mendapat semacam ilmu yang memungkinkannya bisa meraih harta, kecerdasan dan kekuasaan seperti sekarang. Begitu pulang ke desa, orang tua dan saudara-saudaranya mendadak mati satu demi satu. Banyak orang menduga mereka menjadi tumbal ilmu yang dimilikinya.

Cerita lain menyebutkan bahwa ia melarikan diri ke sebuah kota kemudian bertemu dengan orang kaya, pejabat penting di pemerintahan. Karena kecantikannya, ia menjadi istri simpanan pejabat tersebut kemudian diberikan berbagai fasilitas mewah dan kemudahan. Begitu pulang ke kampung halaman, Siti Masitha bisa meraih simpati warga hingga menjadi kepala desa.

Masih banyak cerita-cerita lain tentangnya, tetapi begitulah, hanya sebatas cerita saja yang tak jelas kebenarannya. Aku sebenarnya heran, benarkah ia seperti itu. Aku dulu mengenalnya sebagai gadis manja dan cenderung tak tahu banyak hal. Tetapi yang jelas, kini ia dalam masalah besar. Siti Masitha diperiksa di kota provinsi karena kasus yang membelitnya. Menurut kabar yang beredar, ia banyak menyelewengkan dana desa dari pusat untuk kepentingan pribadi. Selain itu ia juga menarik upeti dari pengusaha yang terlibat proyek menggunakan anggaran desa tersebut. Sampai beberapa waktu ia tak berada di desa, menjalani pemeriksaan di kota provinsi.

Ah, aku benar-benar bingung, tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Padahal niatku semula kembali kesini adalah ingin menemui perempuan masa laluku itu, yang sungguh masih sangat kucintai, meminta maaf tentang kesalahanku di masa silam yang menghantuiku sampai hari ini.

***

Malam sebentar lagi tiba, sepasang muda-mudi bertengkar hebat dalam keremangan senja di pinggiran desa.

“Aku tak bisa meneruskan hubungan ini, orang tua kita tak merestui.”

“Kita bisa lari, kemudian membina hidup bersama.  Jauh dari desa ini.”

“Tidak. Aku tak mau melukai hati mereka. Kita harus berpisah.”

“Kamu pengecut. Semuanya telah kuserahkan padamu. Kamu mau lari dari tanggungjawab begitu saja?

“Kita memang harus mengalah pada kenyataan. Biarlah semua yang telah terjadi diantara kita menjadi kenangan yang perlahan hilang tertiup angin dan terkubur waktu.”

Kamu memang laki-laki pengecut!

Perempuan itu menangis, melayangkan tamparan ke arah pasangannya. Lelaki itu tak bisa menghindar atau memang tak mau menghindar. Mendadak, aku tersengal hebat dan tergeragap bangun, keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh. Aku ingat perempuan itu, perempuan masa laluku. Aku harus minta maaf kepada Siti Masitha secepatnya untuk menghapus bayang-bayang dosa itu.

Mendadak pintu kamar diketuk keras. Umar Sanusi mengabarkan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang. Ada kabar dari kota provinsi, Bu Kades menjerat lehernya sendiri, tak tahan menghadapi masalah yang menderanya belakangan ini.  
(2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar