Selasa, 07 Agustus 2018

PECI MBAH MARJUDIN

(pernah tersiar di Minggu Pagi No.32 Tahun 70 Minggu II November 2017)




Perihal kemampuan lebih yang dimiliki oleh Mbah Marjudin, sudah dari kecil  aku mendengarnya dari cerita orang-orang disekitarku. Begitu pula tentang  sesuatu yang berkebalikan dengan hal itu, betapa ia selalu dijauhi nasib baik dalam kehidupan pribadinya, aku sering mendengarnya pula. Dan ketika kini, orang tua itu seperti punya kedekatan emosi denganku, sungguh aku tak pernah menduga pada awalnya.

“Mbah, selama ini njenengan identik dengan peci hitam lusuh yang selalu menutupi rambut kepala. Benarkah kata orang-orang itu, bahwa peci itu mempunyai tuah  luar biasa?” suatu kali aku iseng-iseng bertanya kepadanya tentang sesuatu yang sudah lama membuatku penasaran.

Siang itu, seperti kebiasaannya belakangan ini, ia  menyambangi markasku sehabis rutinitasnya membersihkan mushola dan menggarap kebun dekat gubuknya. Sungguh luar biasa, di usia yang kutaksir lebih dari sembilan puluh tahun, ia masih bugar dan mempunyai gairah hidup yang tak surut.

“Ah, itu hanya cerita yang dibesar-besarkan saja. Agama kita melarang  percaya hal seperti itu,” jawabnya  sambil mengepulkan asap tembakau lintingnya.

“Tetapi bahwa dengan memakai peci ini, aku lebih tenang dan percaya diri, itu memang aku akui. Peci ini telah bertahan begitu lama, menemaniku sejak  muda dulu. Lihatlah, walaupun telah pudar warnanya, tidak ada yang berkurang selain itu,” lanjutnya kemudian, sambil melepas kemudian menimang peci tersebut.
“ Waktu itu sebelum pendudukan Jepang. Aku baru beranjak besar. Ada seorang pejuang terluka, kena tembak di beberapa bagian tubuhnya, kemudian dirawat dengan telaten oleh simbok. Ajaib, setelah beberapa waktu, ia bisa sembuh seperti sedia kala. Mungkin sebagai bentuk terima kasihnya kepada kami, karena aku sudah tak punya bapak, ia memberiku peci ini sebagai kenang-kenangan. Setelah itu ia pamit pergi, dan tak pernah kami ketahui kabar nasibnya,” mata Mbah Marjudin  seperti menerawang ke masa silam.

“Lantas, cerita orang-orang bahwa peci itu membuat Mbah Marjudin kebal peluru itu benar adanya?” aku mulai penasaran.

“Hehehe…sudah kukatakan, kamu jangan percaya hal seperti itu. Bila berkali-kali batok kepalaku, juga tubuhku ini bisa selamat dari peluru pasukan musuh, itu bukan karena benda ini, tapi Gusti Allah memang masih berkehendak begitu. Bahkan hingga setua ini pun, karunia itu masih diberikan kepadaku.” jawabnya sambil terkekeh, kemudian meninggalkanku begitu saja.

Aku terdiam, menatap tubuh lelaki tua itu kemudian hilang dibalik rimbun pepohonan. Langkahnya gesit, walau tak pernah lepas dari asap rokok mengepul dari bibirnya yang menghitam. Kadang aku berpikir dan menyamakan perjalanan hidupnya dengan hidupku walaupun tak sama persis. Mbah Marjudin mempunyai kemampuan lebih dari kebanyakan orang, tapi hidupnya kesepian dan jauh dari makmur sebagai seorang veteran yang turut merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. Ia tak pernah berkeluarga sampai saat ini, dan tinggal di gubuk sederhana bersisihan dengan mushola kampung. Konon, wanita yang dicintainya kawin dengan orang lain karena terlalu lelah menunggunya yang terus berpindah tempat sebagai seorang pejuang. Setelah lelah mengembara, akhirnya pulang dan menetap kembali di kampung ini.

Sedangkan diriku, sekolah dan kuliah dengan prestasi cemerlang, namun begitu sulit mendapatkan pekerjaan yang dianggap mapan oleh orang pada umumnya. Orang tuaku yang mendamba anaknya bisa bekerja sebagai pegawai negeri atau orang kantoran lainnya, harus gigit jari melihat anaknya hanya menjadi pengepul barang bekas, berkarib dengan pemulung dan barang rongsokan, bahkan juga sampah. Ya, sudah beberapa tahun ini aku mengepul rongsokan dan membuka tempat di pojokan kampung, yang sering kusebut sebagai markas. Namun lepas dari itu, aku sebenarnya secara pribadi bahagia karena dengan itu semua aku bisa menyambung hidup dan memberikan penghidupan bagi orang lain, seperti para pemulung itu.

Ah, aku terlalu banyak melamun.

***

Beberapa hari ini tak kulihat Mbah Marjudin mengenakan peci hitam lusuh khasnya itu. Rambut tipisnya yang memutih tampak begitu jelas, menjadi terlihat berbeda dari sosok Mbah Marjudin sehari-hari. Tubuhnyapun, entah mengapa, terlihat ringkih dan kegesitannya seperti berkurang. Ia juga mulai jarang menyambangi markasku. Menurut obrolan tetangga sekitarnya, Mbah Marjudin kehilangan pecinya, atau mungkin lupa menaruh dimana benda kesayangannya itu.

Akhirnya, apa yang kukhawatirkan terjadi juga.  Pagi ini Mbah Marjudin meninggal dunia, setelah kembali ke gubuknya sehabis menunaikan ibadah Sholat Subuh di mushola. Seperti ada rasa sepi panjang menyelinap dalam jiwaku. Mataku berkaca-kaca melepas orang tua yang beberapa waktu terakhir begitu dekat denganku itu.

***

Matahari condong ke barat, senja sebentar lagi datang. Aku masih sibuk sendirian di markas, membereskan tumpukan kardus dan rongsokan yang menggunung. Beberapa orang yang biasanya membantuku sudah pulang beberapa saat lalu. Darahku terkesirap, dari balik tumpukan kardus yang kubongkar dan pindahkan terlihat peci hitam lusuh menggantung pada paku berkarat yang menancap lemah di papan.

Aku termangu sesaat, bulu kudukku meremang. Mungkinkah Mbah Marjudin lupa menaruhnya, atau mungkin ia sengaja meninggalkan peci ini untukku? ●
(PGP 06, 1 November 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar