Perihal
kemampuan lebih yang dimiliki oleh Mbah Marjudin, sudah dari kecil aku mendengarnya dari cerita orang-orang
disekitarku. Begitu pula tentang sesuatu
yang berkebalikan dengan hal itu, betapa ia selalu dijauhi nasib baik dalam
kehidupan pribadinya, aku sering mendengarnya pula. Dan ketika kini, orang tua
itu seperti punya kedekatan emosi denganku, sungguh aku tak pernah menduga pada
awalnya.
“Mbah,
selama ini njenengan identik dengan
peci hitam lusuh yang selalu menutupi rambut kepala. Benarkah kata orang-orang
itu, bahwa peci itu mempunyai tuah luar
biasa?” suatu kali aku iseng-iseng bertanya kepadanya tentang sesuatu yang
sudah lama membuatku penasaran.
Siang
itu, seperti kebiasaannya belakangan ini, ia
menyambangi markasku sehabis rutinitasnya membersihkan mushola dan
menggarap kebun dekat gubuknya. Sungguh luar biasa, di usia yang kutaksir lebih
dari sembilan puluh tahun, ia masih bugar dan mempunyai gairah hidup yang tak surut.
“Ah,
itu hanya cerita yang dibesar-besarkan saja. Agama kita melarang percaya hal seperti itu,” jawabnya sambil mengepulkan asap tembakau lintingnya.
“Tetapi
bahwa dengan memakai peci ini, aku lebih tenang dan percaya diri, itu memang
aku akui. Peci ini telah bertahan begitu lama, menemaniku sejak muda dulu. Lihatlah, walaupun telah pudar
warnanya, tidak ada yang berkurang selain itu,” lanjutnya kemudian, sambil
melepas kemudian menimang peci tersebut.
“
Waktu itu sebelum pendudukan Jepang. Aku baru beranjak besar. Ada seorang
pejuang terluka, kena tembak di beberapa bagian tubuhnya, kemudian dirawat
dengan telaten oleh simbok. Ajaib, setelah beberapa waktu, ia bisa sembuh
seperti sedia kala. Mungkin sebagai bentuk terima kasihnya kepada kami, karena
aku sudah tak punya bapak, ia memberiku peci ini sebagai kenang-kenangan.
Setelah itu ia pamit pergi, dan tak pernah kami ketahui kabar nasibnya,” mata
Mbah Marjudin seperti menerawang ke masa
silam.
“Lantas,
cerita orang-orang bahwa peci itu membuat Mbah Marjudin kebal peluru itu benar
adanya?” aku mulai penasaran.
“Hehehe…sudah
kukatakan, kamu jangan percaya hal seperti itu. Bila berkali-kali batok
kepalaku, juga tubuhku ini bisa selamat dari peluru pasukan musuh, itu bukan
karena benda ini, tapi Gusti Allah memang masih berkehendak begitu. Bahkan
hingga setua ini pun, karunia itu masih diberikan kepadaku.” jawabnya sambil
terkekeh, kemudian meninggalkanku begitu saja.
Aku
terdiam, menatap tubuh lelaki tua itu kemudian hilang dibalik rimbun pepohonan.
Langkahnya gesit, walau tak pernah lepas dari asap rokok mengepul dari bibirnya
yang menghitam. Kadang aku berpikir dan menyamakan perjalanan hidupnya dengan
hidupku walaupun tak sama persis. Mbah Marjudin mempunyai kemampuan lebih dari
kebanyakan orang, tapi hidupnya kesepian dan jauh dari makmur sebagai seorang
veteran yang turut merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. Ia tak
pernah berkeluarga sampai saat ini, dan tinggal di gubuk sederhana bersisihan
dengan mushola kampung. Konon, wanita yang dicintainya kawin dengan orang lain
karena terlalu lelah menunggunya yang terus berpindah tempat sebagai seorang
pejuang. Setelah lelah mengembara, akhirnya pulang dan menetap kembali di
kampung ini.
Sedangkan
diriku, sekolah dan kuliah dengan prestasi cemerlang, namun begitu sulit
mendapatkan pekerjaan yang dianggap mapan oleh orang pada umumnya. Orang tuaku
yang mendamba anaknya bisa bekerja sebagai pegawai negeri atau orang kantoran
lainnya, harus gigit jari melihat anaknya hanya menjadi pengepul barang bekas,
berkarib dengan pemulung dan barang rongsokan, bahkan juga sampah. Ya, sudah
beberapa tahun ini aku mengepul rongsokan dan membuka tempat di pojokan
kampung, yang sering kusebut sebagai markas. Namun lepas dari itu, aku
sebenarnya secara pribadi bahagia karena dengan itu semua aku bisa menyambung
hidup dan memberikan penghidupan bagi orang lain, seperti para pemulung itu.
Ah,
aku terlalu banyak melamun.
***
Beberapa
hari ini tak kulihat Mbah Marjudin mengenakan peci hitam lusuh khasnya itu.
Rambut tipisnya yang memutih tampak begitu jelas, menjadi terlihat berbeda dari
sosok Mbah Marjudin sehari-hari. Tubuhnyapun, entah mengapa, terlihat ringkih
dan kegesitannya seperti berkurang. Ia juga mulai jarang menyambangi markasku.
Menurut obrolan tetangga sekitarnya, Mbah Marjudin kehilangan pecinya, atau
mungkin lupa menaruh dimana benda kesayangannya itu.
Akhirnya,
apa yang kukhawatirkan terjadi juga. Pagi
ini Mbah Marjudin meninggal dunia, setelah kembali ke gubuknya sehabis
menunaikan ibadah Sholat Subuh di mushola. Seperti ada rasa sepi panjang
menyelinap dalam jiwaku. Mataku berkaca-kaca melepas orang tua yang beberapa
waktu terakhir begitu dekat denganku itu.
***
Matahari
condong ke barat, senja sebentar lagi datang. Aku masih sibuk sendirian di
markas, membereskan tumpukan kardus dan rongsokan yang menggunung. Beberapa
orang yang biasanya membantuku sudah pulang beberapa saat lalu. Darahku
terkesirap, dari balik tumpukan kardus yang kubongkar dan pindahkan terlihat
peci hitam lusuh menggantung pada paku berkarat yang menancap lemah di papan.
Aku
termangu sesaat, bulu kudukku meremang. Mungkinkah Mbah Marjudin lupa
menaruhnya, atau mungkin ia sengaja meninggalkan peci ini untukku? ●
(PGP
06, 1 November 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar