Senin, 20 Agustus 2018

SITI MASITHA


(pernah tersiar di Magelang Ekspres, tanggal 12 November 2017))

Dialah sebenarnya alasan utamaku menengok kampung halaman, setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Ya, perempuan masa laluku, Siti Masitha, kembang desa yang dulu menjadi incaran setiap laki-laki. Ah, bagaimana sosoknya kini, masihkah mempesona seperti dulu. Tatapan matanya menggoda, juga senyumnya yang merekah dengan gigi-gigi putih tertata rapi, sanggup menawan hati setiap lawan bicara.

Beberapa saat setelah tiba di desa ini, aku sebenarnya terkejut. Siti Masitha yang dulu acuh dengan kegiatan warga, kini menjadi pemimpin di desa ini. Menurut Umar Sanusi, sepupuku, sudah  hampir satu periode ia menjabat kepala desa.
“Bu Sitha, menang mutlak dalam pemilihan yang diikutinya, Mas.“

“Wah, benar-benar tidak menyangka aku, Dik Umar. Dulu dia itu manja sekali.”

“Begitulah Mas, sejak menghilang selama beberapa tahun, ia banyak berubah, menjadi berani dan luwes bila berbicara di depan umum. Banyak warga yang suka kepadanya karena terkesan cerdas dan selalu membela kepentingan orang banyak.”

“Jadi ia pernah meninggalkan desa ini?”

Betul Mas, begitu pulang ke desa, mendadak ia menjadi pintar, punya banyak uang dan kenal orang-orang penting.”

Aku menjadi penasaran dengan penuturan Umar Sanusi. Aku harus bertemu dengan Siti Masitha. Tentu banyak hal yang bisa saling diceritakan bila bertemu dengannya. Aku dan dia pernah begitu dekat, menjalin kasih selama beberapa tahun, walau akhirnya harus menyerah pada kenyataan, bahwa aku dan dirinya tidak berjodoh. Orang tuaku dan orang tuanya berseberangan dalam banyak hal, terutama dalam pilihan politik.

 Bertahun-tahun lampau, aku meninggalkan desa ini. Meninggalkan kekasih yang sangat kucintai. Bapak memaksaku melanjutkan kuliah ke kota dan tinggal bersama saudara jauhku di sana, sedang Siti Masitha konon dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya.

Pikiranku melayang ke masa silam, membayangkan bila aku dan dia dulu bisa bersanding ke pelaminan. Ada rasa yang tak biasa, entah rindu atau apa namanya, aku tak tahu pasti. Perasaanku berbunga-bunga seperti muda kembali, lebih-lebih setelah Umar Sanusi bilang bahwa Bu Kades belum berumah tangga sampai sekarang. Kata orang-orang yang kudengar kemudian, Siti Masitha hatinya remuk redam setelah hubungannya denganku dulu tidak disetujui oleh orang tuanya dan malah dijodohkan dengan laki-laki lain. Siti Masitha memberontak, kemudian lari entah kemana. Tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah itu, begitu kembali ke desa, ia menjadi orang yang berbeda dalam banyak hal.

Aku merasa benar-benar gila, siang malam yang kupikirkan hanya perempuan itu. Sudah berbagai cara kucoba untuk meredam perasaanku yang menggebu-gebu tentang dirinya, tetapi tetap saja tak bisa. Aku mengutuk diriku sendiri, mengapa aku bisa seperti ini. Selintas aku merasa berdosa kepada istri dan anak-anakku yang kutinggalkan di kota, tetapi hanya sesaat, begitu bayangan perempuan masa laluku itu muncul kembali, aku seperti ditelikung perasaan bersalah, rindu dan harap-harap cemas ingin segera bertemu dengannya.

***

Sudah seminggu lebih aku tinggal di desa ini, menumpang di rumah Umar Sanusi. Dulu, aku memang pernah dua kali pulang, ketika bapak dan ibu bergantian tiada, namun itu cuma sebentar. Waktu itu aku juga tidak berpikir tentang Siti Masitha, karena rutinitas kerja yang banyak menyita waktu dan pikiran. Setelah meyakinkan diri tak ada yang akan kutemui lagi, rumah dan tanah warisan kujual semua. Aku bertekad bulat meninggalkan kampung halaman dan tak akan kembali lagi. Namun begitulah, tiba-tiba aku ingin menengok kembali desa ini. Ada perasaan bersalah yang mengganjal di hatiku, harus kutuntaskan disini. Dan semua itu berhubungan dengan perempuan masa laluku, Siti Masitha.

Tak semudah bayangan semula, aku sulit sekali menemui perempuan itu. Sampai hari ini, aku belum juga bisa bertemu dengannya. Rumahnya selalu sepi, hanya pembantu dan penjaga rumah saja yang ada. Di kantor desa pun, beberapa kali aku berkunjung ke sana, tetap saja tak dapat kujumpai sosoknya. Menurut beberapa perangkat desa yang kutemui, Bu Kades beberapa hari ini berada di  kota provinsi, yang letaknya memang agak jauh dari desa. Konon, ada masalah besar yang sedang diselesaikannya di sana. Mereka tak mau menjelaskan tentang masalah besar itu, tetapi lama-lama aku mencium ada hal tak beres terjadi  di sini.

Setelah menelisik lebih lanjut, tanya sana-sini kepada beberapa penduduk, akhirnya baru kutahu yang terjadi di desa ini.  Juga tentang Siti Masitha dan sepak terjangnya selama ini, walau simpang siur tak jelas kebenarannya. Sepertinya perempuan masa laluku itu banyak menyimpan misteri, berselimut kabut gaib, sejak kepulangannya kembali ke desa ini dahulu.

Inilah cerita-cerita itu, yang sebenarnya sulit diterima akal pada umumnya. Konon Siti Masitha melarikan diri dari orang tuanya kemudian bertemu dengan orang pintar. Ia mendapat semacam ilmu yang memungkinkannya bisa meraih harta, kecerdasan dan kekuasaan seperti sekarang. Begitu pulang ke desa, orang tua dan saudara-saudaranya mendadak mati satu demi satu. Banyak orang menduga mereka menjadi tumbal ilmu yang dimilikinya.

Cerita lain menyebutkan bahwa ia melarikan diri ke sebuah kota kemudian bertemu dengan orang kaya, pejabat penting di pemerintahan. Karena kecantikannya, ia menjadi istri simpanan pejabat tersebut kemudian diberikan berbagai fasilitas mewah dan kemudahan. Begitu pulang ke kampung halaman, Siti Masitha bisa meraih simpati warga hingga menjadi kepala desa.

Masih banyak cerita-cerita lain tentangnya, tetapi begitulah, hanya sebatas cerita saja yang tak jelas kebenarannya. Aku sebenarnya heran, benarkah ia seperti itu. Aku dulu mengenalnya sebagai gadis manja dan cenderung tak tahu banyak hal. Tetapi yang jelas, kini ia dalam masalah besar. Siti Masitha diperiksa di kota provinsi karena kasus yang membelitnya. Menurut kabar yang beredar, ia banyak menyelewengkan dana desa dari pusat untuk kepentingan pribadi. Selain itu ia juga menarik upeti dari pengusaha yang terlibat proyek menggunakan anggaran desa tersebut. Sampai beberapa waktu ia tak berada di desa, menjalani pemeriksaan di kota provinsi.

Ah, aku benar-benar bingung, tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Padahal niatku semula kembali kesini adalah ingin menemui perempuan masa laluku itu, yang sungguh masih sangat kucintai, meminta maaf tentang kesalahanku di masa silam yang menghantuiku sampai hari ini.

***

Malam sebentar lagi tiba, sepasang muda-mudi bertengkar hebat dalam keremangan senja di pinggiran desa.

“Aku tak bisa meneruskan hubungan ini, orang tua kita tak merestui.”

“Kita bisa lari, kemudian membina hidup bersama.  Jauh dari desa ini.”

“Tidak. Aku tak mau melukai hati mereka. Kita harus berpisah.”

“Kamu pengecut. Semuanya telah kuserahkan padamu. Kamu mau lari dari tanggungjawab begitu saja?

“Kita memang harus mengalah pada kenyataan. Biarlah semua yang telah terjadi diantara kita menjadi kenangan yang perlahan hilang tertiup angin dan terkubur waktu.”

Kamu memang laki-laki pengecut!

Perempuan itu menangis, melayangkan tamparan ke arah pasangannya. Lelaki itu tak bisa menghindar atau memang tak mau menghindar. Mendadak, aku tersengal hebat dan tergeragap bangun, keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh. Aku ingat perempuan itu, perempuan masa laluku. Aku harus minta maaf kepada Siti Masitha secepatnya untuk menghapus bayang-bayang dosa itu.

Mendadak pintu kamar diketuk keras. Umar Sanusi mengabarkan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang. Ada kabar dari kota provinsi, Bu Kades menjerat lehernya sendiri, tak tahan menghadapi masalah yang menderanya belakangan ini.  
(2017)

Minggu, 12 Agustus 2018

SEBELUM MENGINTERNASIONALKAN BAHASA JAWA

(pernah tersiar di Kedaulatan Rakyat, 14 November 2017)


Tulisan ini berupaya untuk memberikan perspektif lain dari tulisan Sarworo Soeprapto di Kedaulatan Rakyat tanggal 10 November 2017 yang berjudul Menginternasionalkan Bahasa Jawa. Seperti dituturkan dalam opini tersebut, perihal penginternasionalan Bahasa Jawa (BJ) itu mengemuka lewat salah satu diskusi dalam Temu Karya Sastra 2017 yang dihelat Dinas Kebudayaan DIY beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, BJ di dalam negeri diposisikan sebagai bahasa daerah atau bahasa etnis, namun dalam ranah kebudayaan dunia, BJ memiliki kedudukan yang sejajar dengan bahasa-bahasa lain. Dikemukakan pula bahwa penutur BJ cukup banyak dan tersebar ke berbagai belahan dunia. Diaspora orang Jawa  di berbagai belahan dunia bisa difungsikan maksimal untuk kepentingan dimaksud, tentu saja diiringi pula dengan beberapa strategi khusus dari instansi yang bersangkutan, seperti penerbitan buku berbahasa Jawa dan penerjemahan silang dengan bahasa lain, khususnya Indonesia dan Inggris, buku-buku yang berkaitan dengan budaya Jawa.

Penulis yang juga hadir langsung dalam Temu Karya Sastra 2017 tersebut memang melihat semangat yang luar biasa dari peserta untuk mewujudkan gagasan diatas, khususnya dari kalangan muda (didominasi oleh guru MGMP BJ), karena tentu saja basic keilmuan mereka memang di bidang pendidikan bahasa (sastra)  Jawa.

Gagasan  tersebut sangatlah bagus di era informasi modern sekarang ini, tetapi alangkah lebih baiknya, sebelum kita berpikir ke luar  (internasional) sabaiknya melihat ke dalam terlebih dahulu, kemudian berbenah, bagaimanakah keadaan BJ sekarang khususnya di kawasan pusat perkembangan bahasa tersebut yaitu tanah Jawa (khususnya Yogyakarta dan Jawa Tengah) sekarang ini? Sungguh, sebagai pribadi saya melihat bahwa  BJ sekarang ini sedang berada dalam situasi terombang-ambing arus perkembangan zaman. Di sisi pemikiran memang banyak kalangan yang berwacana bahwa BJ adalah budaya adiluhung yang bernilai tinggi dan harus terus dilestarikan bagaimanapun caranya, tetapi di sisi prakteknya sangatlah jauh dari itu. BJ sangat kecil perannya dalam komunikasi secara umum sehari-hari di sekitar kita. Memang benar, bahasa nasional kita sebagai bahasa pemersatu bangsa adalah bahasa Indonesia, tetapi bukankah bahasa daerah khususnya  BJ bisa pula mengambil peran yang lebih besar sebagai pendamping bahasa nasional?

Beberapa contoh sederhana dapat dikemukakan disini, dimulai dari lingkup terkencil yaitu keluarga. Dulu, bahasa yang diajarkan orang tua kepada kita sebagai bahasa awal atau bahasa ibu orang Jawa tentu saja adalah BJ. Di keluarga yang lebih berpendidikan atau terhormat (secara materi) bahkan unggah-ungguh berbahasa diterapkan dengan benar. Kepada yang lebih tua harus menggunakan BJ krama, tidak sama dengan berkomunikasi dengan teman sepermainan yang menggunakan BJ ngoko. Tetapi berbeda dengan keluarga muda sekarang, yang mengajarkan dari kecil anak-anak mereka dengan bahasa Indonesia tanpa disertai BJ, bahkan sudah ada yang mengenalkannya dengan bahasa asing (Inggris). Mereka khawatir, jika tidak demikian, anak-anak akan kesulitan mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang cepat. Yang lebih ironis, penulis pernah melihat ada sebuah keluarga yang orang tuanya (antara ayah dan ibu) menggunakan BJ dengan unggah-ungguh yang benar, tetapi membiasakan komunikasi dengan anak-anaknya dengan bahasa Indonesia. Anak-anak tersebut memang bisa berbahasa Jawa kemudian, karena lingkungan permainan mereka menggunakan bahasa campur (Indonesia dan Jawa), tetapi tentu saja ruhnya menjadi berbeda dengan apabila bahasa awal mereka adalah BJ.

Selanjutnya meningkat ke lingkungan sosial kemasyarakatan. Sangat jarang sekarang dalam acara pertemuan warga, BJ digunakan sebagai bahasa pengantar. Seandainya dipaksakan menggunakan BJ, bahasanya pun belepotan dan terlihat mereka kesulitan mengeluarkan apa yang yang ada dalam pikiran mereka. Dalam forum  temu karya sastra itupun, seperti diakui sendiri oleh beberapa pembicaranya, banyak narasumber yang kesulitan berbicara menggunakan BJ dibandingkan jika menggunakan bahasa Indonesia.

Sementara itu di lingkungan instansi atau tempat kerja lainnya, sudah tentu BJ sangat jarang digunakan dalam komunikasi ataupun administrasinya. Sebuah terobosan yang patut dihargai adalah penggunaan BJ dalam komunikasi di hari tertentu pada instansi pemerintah. Namun sekarang, hal itu seperti sayup terdengar, apakah masih berlangsung atau tidak.

Yang terakhir, di lingkungan pengajaran, seperti banyak dikemukan oleh beberapa praktisi yang berkompeten, walau sekarang BJ sudah menjadi muatan lokal di tingkat SD maupun SMP tetapi kesannya seperti hanya menjadi pelengkap saja, berbeda dengan pelajaran bahasa Indonesia atau Inggris, misalnya. Selain itu, banyak murid menganggap bahwa pelajaran BJ itu sulit, bahkan cenderung kurang menarik padahal keseharian mereka menggunakan BJ. Sementara di lingkungan perguruan tinggi,  BJ juga menjadi jurusan yang kurang menarik dibandingkan dengan jurusan bahasa lainnya.

Beberapa hal diatas, mungkin perlu mendapat perhatian kita bersama sebelum kita lebih jauh berpikir menginternasionalkan BJ. Ditambah lagi dengan minimnya literasi BJ, seperti disinggung di awal tulisan, baik dalam bentuk buku, majalah maupun situs online yang juga perlu mendapat perhatian pula. Alangkah lebih baiknya, kita berpikir yang lebih dekat dulu sebelum melompat ke luar yang lebih luas.

Adanya dana keistimewaan memungkinkan instansi terkait dan segenap pemerhati BJ mencari solusi permasalahan diatas dari segi pendanaan (keuangan), tetapi yang lebih utama dari itu semua sebagai pondasi dasar adalah rasa cinta dan peduli kita bersama kepada BJ dan kelestariannya di sepanjang zaman.

Selasa, 07 Agustus 2018

PECI MBAH MARJUDIN

(pernah tersiar di Minggu Pagi No.32 Tahun 70 Minggu II November 2017)




Perihal kemampuan lebih yang dimiliki oleh Mbah Marjudin, sudah dari kecil  aku mendengarnya dari cerita orang-orang disekitarku. Begitu pula tentang  sesuatu yang berkebalikan dengan hal itu, betapa ia selalu dijauhi nasib baik dalam kehidupan pribadinya, aku sering mendengarnya pula. Dan ketika kini, orang tua itu seperti punya kedekatan emosi denganku, sungguh aku tak pernah menduga pada awalnya.

“Mbah, selama ini njenengan identik dengan peci hitam lusuh yang selalu menutupi rambut kepala. Benarkah kata orang-orang itu, bahwa peci itu mempunyai tuah  luar biasa?” suatu kali aku iseng-iseng bertanya kepadanya tentang sesuatu yang sudah lama membuatku penasaran.

Siang itu, seperti kebiasaannya belakangan ini, ia  menyambangi markasku sehabis rutinitasnya membersihkan mushola dan menggarap kebun dekat gubuknya. Sungguh luar biasa, di usia yang kutaksir lebih dari sembilan puluh tahun, ia masih bugar dan mempunyai gairah hidup yang tak surut.

“Ah, itu hanya cerita yang dibesar-besarkan saja. Agama kita melarang  percaya hal seperti itu,” jawabnya  sambil mengepulkan asap tembakau lintingnya.

“Tetapi bahwa dengan memakai peci ini, aku lebih tenang dan percaya diri, itu memang aku akui. Peci ini telah bertahan begitu lama, menemaniku sejak  muda dulu. Lihatlah, walaupun telah pudar warnanya, tidak ada yang berkurang selain itu,” lanjutnya kemudian, sambil melepas kemudian menimang peci tersebut.
“ Waktu itu sebelum pendudukan Jepang. Aku baru beranjak besar. Ada seorang pejuang terluka, kena tembak di beberapa bagian tubuhnya, kemudian dirawat dengan telaten oleh simbok. Ajaib, setelah beberapa waktu, ia bisa sembuh seperti sedia kala. Mungkin sebagai bentuk terima kasihnya kepada kami, karena aku sudah tak punya bapak, ia memberiku peci ini sebagai kenang-kenangan. Setelah itu ia pamit pergi, dan tak pernah kami ketahui kabar nasibnya,” mata Mbah Marjudin  seperti menerawang ke masa silam.

“Lantas, cerita orang-orang bahwa peci itu membuat Mbah Marjudin kebal peluru itu benar adanya?” aku mulai penasaran.

“Hehehe…sudah kukatakan, kamu jangan percaya hal seperti itu. Bila berkali-kali batok kepalaku, juga tubuhku ini bisa selamat dari peluru pasukan musuh, itu bukan karena benda ini, tapi Gusti Allah memang masih berkehendak begitu. Bahkan hingga setua ini pun, karunia itu masih diberikan kepadaku.” jawabnya sambil terkekeh, kemudian meninggalkanku begitu saja.

Aku terdiam, menatap tubuh lelaki tua itu kemudian hilang dibalik rimbun pepohonan. Langkahnya gesit, walau tak pernah lepas dari asap rokok mengepul dari bibirnya yang menghitam. Kadang aku berpikir dan menyamakan perjalanan hidupnya dengan hidupku walaupun tak sama persis. Mbah Marjudin mempunyai kemampuan lebih dari kebanyakan orang, tapi hidupnya kesepian dan jauh dari makmur sebagai seorang veteran yang turut merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. Ia tak pernah berkeluarga sampai saat ini, dan tinggal di gubuk sederhana bersisihan dengan mushola kampung. Konon, wanita yang dicintainya kawin dengan orang lain karena terlalu lelah menunggunya yang terus berpindah tempat sebagai seorang pejuang. Setelah lelah mengembara, akhirnya pulang dan menetap kembali di kampung ini.

Sedangkan diriku, sekolah dan kuliah dengan prestasi cemerlang, namun begitu sulit mendapatkan pekerjaan yang dianggap mapan oleh orang pada umumnya. Orang tuaku yang mendamba anaknya bisa bekerja sebagai pegawai negeri atau orang kantoran lainnya, harus gigit jari melihat anaknya hanya menjadi pengepul barang bekas, berkarib dengan pemulung dan barang rongsokan, bahkan juga sampah. Ya, sudah beberapa tahun ini aku mengepul rongsokan dan membuka tempat di pojokan kampung, yang sering kusebut sebagai markas. Namun lepas dari itu, aku sebenarnya secara pribadi bahagia karena dengan itu semua aku bisa menyambung hidup dan memberikan penghidupan bagi orang lain, seperti para pemulung itu.

Ah, aku terlalu banyak melamun.

***

Beberapa hari ini tak kulihat Mbah Marjudin mengenakan peci hitam lusuh khasnya itu. Rambut tipisnya yang memutih tampak begitu jelas, menjadi terlihat berbeda dari sosok Mbah Marjudin sehari-hari. Tubuhnyapun, entah mengapa, terlihat ringkih dan kegesitannya seperti berkurang. Ia juga mulai jarang menyambangi markasku. Menurut obrolan tetangga sekitarnya, Mbah Marjudin kehilangan pecinya, atau mungkin lupa menaruh dimana benda kesayangannya itu.

Akhirnya, apa yang kukhawatirkan terjadi juga.  Pagi ini Mbah Marjudin meninggal dunia, setelah kembali ke gubuknya sehabis menunaikan ibadah Sholat Subuh di mushola. Seperti ada rasa sepi panjang menyelinap dalam jiwaku. Mataku berkaca-kaca melepas orang tua yang beberapa waktu terakhir begitu dekat denganku itu.

***

Matahari condong ke barat, senja sebentar lagi datang. Aku masih sibuk sendirian di markas, membereskan tumpukan kardus dan rongsokan yang menggunung. Beberapa orang yang biasanya membantuku sudah pulang beberapa saat lalu. Darahku terkesirap, dari balik tumpukan kardus yang kubongkar dan pindahkan terlihat peci hitam lusuh menggantung pada paku berkarat yang menancap lemah di papan.

Aku termangu sesaat, bulu kudukku meremang. Mungkinkah Mbah Marjudin lupa menaruhnya, atau mungkin ia sengaja meninggalkan peci ini untukku? ●
(PGP 06, 1 November 2017)

Selasa, 13 Maret 2018

SANG PENGARANG


Lelaki itu terlihat lelah dan mengantuk. Beberapa hari ini, ia kejar dan gempur terus koran-koran itu dengan tulisannya, terutama cerita pendek dan puisi. Namun hasilnya selalu nihil. Tak ada karyanya yang dimuat di sana.
Kadang ia merasa putus asa, mengarang mungkin bukan jalan hidupnya. Maksudnya, penghasilan yang cukup tidak dapat ia raih dengan tulisannya. Padahal hidup terus berjalan, dan keluarganya butuh kehidupan yang layak. Ia juga sadar, menjadi pengarang sejati adalah panggilan jiwa. Tanpa mengharap materi, tulisan seseorang akan terlihat jernih dan bernilai lebih. Kalau suatu saat, takdir bisa membuat orang kaya dengan tulisannya, itu adalah berkah dari Yang Maha Kuasa karena hal tersebut.
Tetapi dalam situasi yang serba kekurangan seperti saat ini, siapa yang kuat tak pegang uang dan terus menulis, demikian keluhnya dalam hati.
Pagi itu, dalam kantuk yang luar biasa, ia disergap oleh suara istrinya.
“Bagaimana ini, Mas? Aku sudah mati-matian ikut cari uang, tetapi hasilnya tetap tak cukup. Utangku bertebaran dimana-mana untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Kita tidak bisa begini terus, Mas! Kamu harus cari kerja yang bener, berhenti bermimpi dengan tulisan-tulisanmu itu. Kalau tidak….”
“Kalau tidak apa? Kamu mau meninggalkanku? Begitu?!”
“Ah, kamu memang sulit kalau diajak bicara. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyadarkanmu!”
Istrinya berlalu dengan segala keluh kesah dari mulutnya.                 
Lelaki itu sebenarnya kasihan dengan istrinya. Perempuan itu dulu terlihat cantik dan segar sebelum kawin dengan dirinya. Beban hidup membuatnya tidak merawat diri dan terlihat tua dari umurnya. Apalagi setelah dua orang anaknya lahir, penampilan fisik sudah jauh dari pikirannya.
Lelaki itu juga tahu, istrinya tak mungkin meninggalkannya. Kesetiaannya selama ini sudah membuktikan itu semua. Kadang ia menangis dalam hati, tak bisa memberikan kebahagiaan kepada anak dan istrinya. Mereka menjadi korban idealismenya yang tak pernah surut dari waktu ke waktu.
Astaga! Tiba-tiba ia ingat bahwa ini hari Minggu. Entah mengapa ia bisa lupa dengan hari ini, padahal Hari Minggu adalah hari yang selalu dinanti-nantikannya. Hari yang membuat harapannya kembali menyala, namun tiba-tiba bisa redup kembali dan membuat seluruh tubuhnya terasa lunglai. Ya, Hari Minggu adalah hari dimuatnya rubrik sastra pada banyak koran dan media lainnya. Dan ia pun harap-harap cemas, apakah tulisannya kali ini akan dimuat.
Segera ia bergegas ke warnet dekat rumahnya. Lelaki itu akan mengecek kabar pemuatan karya sastra lewat internet. Seandainya ia punya gawai  untuk melakukan itu, tentu tidak harus bersusah payah seperti ini.
Lelaki itu mengamati dengan jeli tiap info pemuatan karya sastra dari anggota grup yang mereka posting dalam komentar-komentar di grup sastra facebook yang diikutinya. Mendadak hatinya berdegup kencang, matanya berbinar-binar. Ia melihat namanya tertera berkali-kali disana.  Cerpen dan puisinya dimuat di banyak media hari ini. Ia tak menggubris begitu banyak komentar miring tentang dirinya di komentar-komentar itu selanjutnya. Yang terbayang dalam pikirannya adalah bahwa ia bisa membeli beras, melunasi uang kontrakan dan mencukupi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Dan tentu saja, membuat istrinya bisa tersenyum, sesuatu yang lama tak dilihatnya.
Lelaki itu sadar, mungkin namanya akan hilang sementara waktu atau selamanya dari rubrik sastra di Hari Minggu. Karya-karyanya telah dimuat ganda, sesuatu yang menjadi polemik berkepanjangan selama ini. Namun sebagai pengarang, ia tidak bisa berbuat lain, selain mengirim banyak karya ke berbagai tempat dan kemungkinan bakal dimuat ganda, bila terdesak dengan kebutuhan yang makin menghimpit setiap hari. Toh ia tidak pernah menjiplak karya orang lain!

(PGP O6, 6 Februari 2018)