Minggu, 01 Desember 2019

PANTAI BUGEL




Pagi ini kami datang terlambat. Pantai Bugel sudah ramai dipadati pengunjung. Mungkin sejak selepas Subuh tadi mereka datang, umumnya adalah keluarga yang membawa serta anak-anak. Konon, udara pagi di pantai memang bagus untuk pernafasan.

Pantai ini memang menjadi alternatif lain menikmati wisata laut Pantai Selatan di Kabupaten Kulonprogo. Walau  belum dikelola secara matang, seperti pantai-pantai lainnya, tetapi Pantai Bugel mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Selain suasananya yang masih alami, lokasinya yang gampang dijangkau dari pusat kota kabupaten maupun jalur-jalur utama lain menjadi nilai tambah pula. Paling gampang, wisatawan dari arah timur (Yogyakarta) ataupun arah barat (Purworejo dan kota-kota lainnya di Jateng bagian barat) bisa menempuh jalur utama jalan provinsi. Begitu tiba di pusat Kota Wates (perlimaan jalan atau terkenal dengan nama proliman—yang ada Patung Nyi Ageng Serang-nya) belok ke arah selatan, lurus terus sekitar 7 km, sudah sampai ke tempat ini. Dan untuk masuk ke Pantai Bugel, Anda hanya membayar uang parkir sebesar Rp3.000,00. Tanpa ada retribusi lainnya lagi. Lumayan murah bukan?

Demikianlah, objek wisata ini hanya dikelola oleh kelompok masyarakat  semacam pokdarwis di daerah tersebut. Dinas Pariwisata setempat, sepertinya belum begitu berminat menjamah pantai ini, entah apa sebabnya. Tetapi yang jelas, untuk fasilitas utama di objek wisata seperti toilet dan tempat kuliner sudah cukup memadai. Apalagi kalau Hari Minggu seperti sekarang, banyak pedagang  yang mangkal. Bahkan tidak hanya penjual makanan, penjual cinderamata dan pernak-pernik juga ada. Di pantai ini juga terdapat tempat pelelangan ikan, meskipun tidak setiap hari buka. Kapal-kapal nelayan pun banyak tertambat disini. Nelayan dan para pemancing turut memeriahkan suasana khas pantai.

Udara pagi ini lumayan cerah. Dan setelah saya tengok, bentuk bibir pantai yang selalu berubah-ubah, mengikuti gerusan ombak pantai selatan, saat ini dalam kondisi bagus. Tidak curam dan membahayakan. Ombak juga tidak terlalu besar. Mungkin ini yang membuat pagi ini begitu padat pengunjung.

Ah, ternyata ada lagi. Setelah beberapa saat saya berada di tempat ini, baru saya sadar, begitu mudahnya para pemancing atau pemasang jaring mendapatkan ikan. Perahu-perahu nelayan yang merapat ke darat pun mendapat hasil tangkapan yang bagus. Ikan cakalang, tongkol, dan lain sebagainya seperti berloncatan di atas perahu mereka. Dan para pemancing atau penjaring itu, begitu gampangnya mendapatkan ikan-ikan kecil seperti  ikan tombol dan semacamnya. Mungkin ini sedang dalam fase musim bagus bagi para nelayan. Saya tak tahu sebabnya, tetapi ikan-ikan itu seperti berlomba-lomba mendekati daratan. Anak-anak kecil pun tak mau kalah, sepert berlomba melempar mata pancing ke laut.





Pagi perlahan namun pasti terus merambat menuju siang. Matahari mulai naik ke atas, panas mulai terasa. Saya, bersama anak dan istri meninggalkan Pantai Bugel dengan rasa puas. Tak lupa juga kami menenteng ikan hasil tangkapan para nelayan dengan harga beli yang lebih murah….

kpk, 1-12-2019



Sabtu, 30 November 2019

UJUNG BULAN



Penghujung bulan, 30 November 2019. Malam Minggu. Hujan yang dinanti, akhirnya turun patah-patah. Namun udara tetap saja terasa gerah. Dan ini sudah berlangsung lama. Entah karena hujan yang nggak turun-turun, padahal sudah masuk Bulan November atau karena apa, saya tidak tahu persis. Yang jelas, hujan memang terlambat datang musim ini.

Jam dinding menunjuk pukul 22.00 WIB kurang 10 menit. Istri dan anak saya sudah terlelap. Saya masih pengin melek sebentar, sekedar memainkan jemari diatas keyboard laptop. Tidak ada ide cerpen, atau puisi di kepala saya. Hanya ingin iseng menulis saja, dan akan saya posting di blog. Entah akan menulis apa, saya hanya mengikuti kata hati dan jemari, kemana mereka akan melaju.

Banyak topik berseliweran di linimasa, menjadi pusat cerita dan pembicaraan warga dunia maya. Saya buka twitter, trending topik teratas #uninstalltokopedia. Saya nggak ngeh tentang ini, kemudian saya cari di google tentang hal tersebut. Ternyata mengulang yang sudah-sudah. Ini adalah residu dari pilpres yang gonjang-ganjing kemarin. Diatas, para pembesar negeri sudah akur dan cipika-cipiki, karena politik sebenarnya hanyalah soal kepentingan, tetapi di akar rumput tetap saja menimbulkan gesekan yang sulit untuk diredam, bahkan mungkin dalam jangka waktu yang lama.

Berita duka menghiasi linimasa facebook saya, terkait meninggalnya pelukis ternama, Jeihan Sukamantoro. Banyak pegiat seni menuangkan catatannya tentang beliau. Saya tahu, seperti halnya Ciputra, yang baru saja meninggal beberapa hari lalu, Jeihan ini tentu saja orang besar pula. Tentu dalam wilayah yang berbeda, namun dalam satu nafas, mereka memiliki nilai ‘kemanusiaan’ yang tinggi, sehingga yang masih hidup merasa berutang sesuatu dengan mereka dalam sketsa yang besar, maupun sisi yang kecil. Saya berusaha belajar dari itu semua, semoga saya bisa menarik sesuatu yang bermanfaat dari cerita-cerita tentang mereka, minimal ada gregah  tertentu dalam jiwa saya yang bernuansa postif, menjalani proses hidup dan juga kreatif.

Hal menarik lain yang saya ikuti hari ini adalah mulai berpindahnya pasar burung legendaris di tempat saya, mulai kemarin. Peresmiannya dilakukan oleh Bapak Bupati. Dan pagi tadi, pasarannya adalah Wage, dan di pasar burung lama hal itu akan menjadi pusat keramaian yang panjang sampai tengah hari. Itu juga adalah sesuatu yang legendaris di daerah saya. Orang-orang menyebutnya dengan Wagean. Keramaiannya seperti Sunday Mornng di Lembah UGM, tetapi lebih heboh lagi karena disini bercampur juga dengan orang jualan hewan, jamu, klithikan dan semacamnya. Wagean ini sudah berlangsung lama. Saya tak ingat betul, tapi sejak kecil saya sudah mengenal Wagean ini, bahkan rela bolos sekolah hanya karena ingin ngelayap ke Gawok, mau Wagean.

Demikianlah, di daerah Pengasih yang lebih masuk ke desa, pasar burung itu belum bisa menunjukkan geliatnya seperti di tempat yang lama. Wagean tidak seramai waktu di Gawok. Dan itu biasa, pasar yang sengaja diciptakan akan sulit mengejar reputasi seperti pasar yang awalnya hanya tiban, dan tidak dirancang untuk diciptakan benar, seperi yang di Gawok pada mulanya. Waktu nanti yang akan menjawab, apakah pasar baru ini akan ramai, atau minimal menyamai reputasi di tempat yang lama atau malah hanya akan menjadi monumen kesunyian saja.

Ah, lepas dari cerita itu semua, ujung bulan selalu saja sentimentil bagi saya. Saat yang tepat untuk menciptakan momentum dan introspeksi diri merancang hari-hari ke depan. Saya berdoa, semoga semuanya lebih baik dalam banyak hal. Amin.

Di luar, hujan masih turun patah-patah....


kpk, 30-11-2019