Penghujung bulan, 30 November 2019. Malam Minggu. Hujan yang dinanti, akhirnya turun patah-patah. Namun udara tetap saja terasa gerah. Dan ini sudah berlangsung lama. Entah karena hujan yang nggak turun-turun, padahal sudah masuk Bulan November atau karena apa, saya tidak tahu persis. Yang jelas, hujan memang terlambat datang musim ini.
Jam dinding menunjuk pukul 22.00 WIB kurang
10 menit. Istri dan anak saya sudah terlelap. Saya masih pengin melek sebentar,
sekedar memainkan jemari diatas keyboard laptop. Tidak ada ide cerpen, atau puisi
di kepala saya. Hanya ingin iseng menulis saja, dan akan saya posting di blog.
Entah akan menulis apa, saya hanya mengikuti kata hati dan jemari, kemana
mereka akan melaju.
Banyak topik berseliweran di linimasa,
menjadi pusat cerita dan pembicaraan warga dunia maya. Saya buka twitter,
trending topik teratas #uninstalltokopedia. Saya nggak ngeh tentang ini,
kemudian saya cari di google tentang hal tersebut. Ternyata mengulang yang
sudah-sudah. Ini adalah residu dari pilpres yang gonjang-ganjing kemarin.
Diatas, para pembesar negeri sudah akur dan cipika-cipiki, karena politik sebenarnya
hanyalah soal kepentingan, tetapi di akar rumput tetap saja menimbulkan gesekan
yang sulit untuk diredam, bahkan mungkin dalam jangka waktu yang lama.
Berita duka menghiasi linimasa facebook
saya, terkait meninggalnya pelukis ternama, Jeihan Sukamantoro. Banyak pegiat
seni menuangkan catatannya tentang beliau. Saya tahu, seperti halnya Ciputra,
yang baru saja meninggal beberapa hari lalu, Jeihan ini tentu saja orang besar
pula. Tentu dalam wilayah yang berbeda, namun dalam satu nafas, mereka memiliki
nilai ‘kemanusiaan’ yang tinggi, sehingga yang masih hidup merasa berutang
sesuatu dengan mereka dalam sketsa yang besar, maupun sisi yang kecil. Saya
berusaha belajar dari itu semua, semoga saya bisa menarik sesuatu yang
bermanfaat dari cerita-cerita tentang mereka, minimal ada gregah tertentu dalam jiwa saya yang bernuansa postif,
menjalani proses hidup dan juga kreatif.
Hal menarik lain yang saya ikuti hari ini adalah
mulai berpindahnya pasar burung legendaris di tempat saya, mulai kemarin. Peresmiannya
dilakukan oleh Bapak Bupati. Dan pagi tadi, pasarannya adalah Wage, dan di
pasar burung lama hal itu akan menjadi pusat keramaian yang panjang sampai
tengah hari. Itu juga adalah sesuatu yang legendaris di daerah saya. Orang-orang
menyebutnya dengan Wagean. Keramaiannya seperti Sunday Mornng di Lembah UGM, tetapi lebih
heboh lagi karena disini bercampur juga dengan orang jualan hewan, jamu,
klithikan dan semacamnya. Wagean ini sudah berlangsung lama. Saya tak ingat
betul, tapi sejak kecil saya sudah mengenal Wagean ini, bahkan rela bolos
sekolah hanya karena ingin ngelayap ke Gawok, mau Wagean.
Demikianlah, di daerah Pengasih yang lebih
masuk ke desa, pasar burung itu belum bisa menunjukkan geliatnya seperti di
tempat yang lama. Wagean tidak seramai waktu di Gawok. Dan itu biasa, pasar
yang sengaja diciptakan akan sulit mengejar reputasi seperti pasar yang awalnya hanya
tiban, dan tidak dirancang untuk diciptakan benar, seperi yang di Gawok pada
mulanya. Waktu nanti yang akan menjawab, apakah pasar baru ini akan ramai, atau
minimal menyamai reputasi di tempat yang lama atau malah hanya akan menjadi monumen
kesunyian saja.
Ah, lepas dari cerita itu semua, ujung bulan selalu saja sentimentil bagi saya. Saat yang tepat untuk menciptakan momentum dan introspeksi diri merancang
hari-hari ke depan. Saya berdoa, semoga semuanya lebih baik dalam banyak hal. Amin.
Di luar, hujan masih turun patah-patah....
Di luar, hujan masih turun patah-patah....
kpk, 30-11-2019
