Lelaki itu terlihat lelah dan mengantuk. Beberapa hari ini, ia kejar dan gempur terus koran-koran itu dengan tulisannya, terutama cerita pendek dan puisi. Namun hasilnya selalu nihil. Tak ada karyanya yang dimuat di sana.
Kadang ia merasa putus asa, mengarang mungkin bukan jalan hidupnya. Maksudnya, penghasilan yang cukup tidak dapat ia raih dengan tulisannya. Padahal hidup terus berjalan, dan keluarganya butuh kehidupan yang layak. Ia juga sadar, menjadi pengarang sejati adalah panggilan jiwa. Tanpa mengharap materi, tulisan seseorang akan terlihat jernih dan bernilai lebih. Kalau suatu saat, takdir bisa membuat orang kaya dengan tulisannya, itu adalah berkah dari Yang Maha Kuasa karena hal tersebut.
Tetapi dalam situasi yang serba kekurangan seperti saat ini, siapa yang kuat tak pegang uang dan terus menulis, demikian keluhnya dalam hati.
Pagi itu, dalam kantuk yang luar biasa, ia disergap oleh suara istrinya.
“Bagaimana ini, Mas? Aku sudah mati-matian ikut cari uang, tetapi hasilnya tetap tak cukup. Utangku bertebaran dimana-mana untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Kita tidak bisa begini terus, Mas! Kamu harus cari kerja yang bener, berhenti bermimpi dengan tulisan-tulisanmu itu. Kalau tidak….”
“Kalau tidak apa? Kamu mau meninggalkanku? Begitu?!”
“Ah, kamu memang sulit kalau diajak bicara. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyadarkanmu!”
Istrinya berlalu dengan segala keluh kesah dari mulutnya.
Lelaki itu sebenarnya kasihan dengan istrinya. Perempuan itu dulu terlihat cantik dan segar sebelum kawin dengan dirinya. Beban hidup membuatnya tidak merawat diri dan terlihat tua dari umurnya. Apalagi setelah dua orang anaknya lahir, penampilan fisik sudah jauh dari pikirannya.
Lelaki itu juga tahu, istrinya tak mungkin meninggalkannya. Kesetiaannya selama ini sudah membuktikan itu semua. Kadang ia menangis dalam hati, tak bisa memberikan kebahagiaan kepada anak dan istrinya. Mereka menjadi korban idealismenya yang tak pernah surut dari waktu ke waktu.
Astaga! Tiba-tiba ia ingat bahwa ini hari Minggu. Entah mengapa ia bisa lupa dengan hari ini, padahal Hari Minggu adalah hari yang selalu dinanti-nantikannya. Hari yang membuat harapannya kembali menyala, namun tiba-tiba bisa redup kembali dan membuat seluruh tubuhnya terasa lunglai. Ya, Hari Minggu adalah hari dimuatnya rubrik sastra pada banyak koran dan media lainnya. Dan ia pun harap-harap cemas, apakah tulisannya kali ini akan dimuat.
Segera ia bergegas ke warnet dekat rumahnya. Lelaki itu akan mengecek kabar pemuatan karya sastra lewat internet. Seandainya ia punya gawai untuk melakukan itu, tentu tidak harus bersusah payah seperti ini.
Lelaki itu mengamati dengan jeli tiap info pemuatan karya sastra dari anggota grup yang mereka posting dalam komentar-komentar di grup sastra facebook yang diikutinya. Mendadak hatinya berdegup kencang, matanya berbinar-binar. Ia melihat namanya tertera berkali-kali disana. Cerpen dan puisinya dimuat di banyak media hari ini. Ia tak menggubris begitu banyak komentar miring tentang dirinya di komentar-komentar itu selanjutnya. Yang terbayang dalam pikirannya adalah bahwa ia bisa membeli beras, melunasi uang kontrakan dan mencukupi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Dan tentu saja, membuat istrinya bisa tersenyum, sesuatu yang lama tak dilihatnya.
Lelaki itu sadar, mungkin namanya akan hilang sementara waktu atau selamanya dari rubrik sastra di Hari Minggu. Karya-karyanya telah dimuat ganda, sesuatu yang menjadi polemik berkepanjangan selama ini. Namun sebagai pengarang, ia tidak bisa berbuat lain, selain mengirim banyak karya ke berbagai tempat dan kemungkinan bakal dimuat ganda, bila terdesak dengan kebutuhan yang makin menghimpit setiap hari. Toh ia tidak pernah menjiplak karya orang lain!
(PGP O6, 6 Februari 2018)